Site icon Tulodo

Memahami Akses dan Partisipasi Pemilih Muda dalam Pemilu 2024: Temuan Studi Eksploratif

Memahami Akses dan Partisipasi Pemilih Muda dalam Pemilu 2024: Temuan Studi Eksploratif

Pemilu 2024 adalah milik kaum muda!

KPU menyebutkan bahwa Generasi Milenial dan Z, menyumbang suara terbanyak dalam perhelatan lima tahunan kali ini. Untuk mendukung partisipasi bermakna kaum muda dalam pemilu, Tulodo Indonesia telah menyusun laporan penelitian eksploratif untuk lebih jauh memahami pemilih muda. 

Dalam studi yang dilakukan pada Oktober-November 2023, kami mencoba untuk  memahami profil, akses informasi, faktor pendukung dan penghambat partisipasi, serta inisiatif yang dapat membuka pintu bagi pemilih muda. Berikut adalah potret ringkasan temuan dalam studi yang kami lakukan:

Tantangan Pengetahuan:

Di balik jumlah suara yang besar, masih banyak pemilih muda yang butuh pemahaman lebih dalam soal pemilu. Terutama dari aspek pengetahuan teknis dan administratif. Mengapa? Hampir satu dari lima responden berpikir mereka harus datang langsung ke kantor KPU untuk mengecek kepesertaan. Sebagian besar beranggapan tanpa KTP, hak pilih mereka hilang, atau tanpa terdaftar di DPT, hak pilih mereka tak berarti. Faktanya? Informasi tersebut keliru. KPU sudah menyediakan DPT online, menyediakan mekanisme untuk pemilih tanpa KTP dan sudah menyediakan mekanisme bagi pemilih yang belum terdaftar di DPT.

Akses Terhadap Informasi:

Mengakses informasi kandidat legislatif?merupakan tantangan utama bagi pemilih muda. Media sosial dipenuhi dengan hiruk-pikuk capres-cawapres, meninggalkan calon legislatif di belakang layar. Informasi soal pemilihan legislatif menjadi tak tersentuh. Belum lagi pemilih muda harus berhadapan dengan misinformasi dan buzzer yang semakin merebak. Pemilih muda harus menyelami gelombang informasi palsu.

Sosial Media sebagai Sumber Informasi Utama:

Sosial media menjadi pilihan favorit untuk mencari sumber informasi kepemiluan. Instagram, TikTok, dan Twitter/X adalah opsi utama. Politik yang menghibur lewat meme dan video komedi di media sosial, seolah membawa politik menjadi lebih dekat buat kaum muda. Di sisi lain, pola konsumsi informasi yang demikian juga berpotensi membuat kaum muda terjauhkan dari informasi yang lebih serius. Misalnya, soal gagasan, kebijakan dan misi dari kandidat. Jangan lupa, peran media tradisional dan obrolan dengan teman-teman masih memberi warna dalam menyusun keputusan politik.

Sikap dan Intensi Partisipasi:

Walaupun hampir setengah dari pemilih muda dalam survei merasa kurang diperhatikan oleh pejabat dan partai politik, serta sebagian kecil meragukan dampak pemilu, tetapi 93,7% dari mereka tetap berkeinginan untuk memberikan suara pada Pemilu 2024. Mereka (94,7%) juga sadar bahwa suara mereka berharga dalam Pemilu 2024.

Faktor Pendukung dan Penghambat:

Aspirasi perubahan dalam pemerintahan (83,0%), kewajiban warga negara (72,8%), dan minat politik (26,7%) menjadi alasan yang mendorong partisipasi. Tapi ada juga faktor yang dianggap menghambat partisipasi pemilih muda mulai dari ketidakpercayaan bahwa pemilu dapat membawa perbaikan kondisi sosial-ekonomi (41,3%), kesulitan mendapatkan informasi (36,9%) dan kurangnya pemahaman soal proses pemilu (28,6%).

Kegiatan yang Diinginkan:

emilih muda memilih mengakses konten digital (57,8%), mencari informasi lewat aplikasi atau website (49,5%), dan terlibat dalam dialog interaktif (45,6%) sebagai kunci dukungan partisipasi.

Materi Pendidikan Pemilu yang Digemari:

Beralih pada aspirasi mengenai materi pendidikan pemilu, tiga materi utama yang menjadi preferensi responden adalah: informasi kandidat capres dan cawapres (55.3%), informasi kandidat legislatif daerah (54.9%) dan legislatif nasional (54.4%). 

Meski porsi suaranya luar biasa besar, pemilih muda memiliki tantangan yang besar pula. Perjalanan mereka untuk merayakan demokrasi dipenuhi dengan tantangan dan lika-liku. Dari mulai keterbatasan pengetahuan, intensi partisipasi mereka hingga dorongan serta hambatan teknis yang memengaruhi partisipasi mereka. Melalui studi eksploratif ini, kita bisa menangkap bahwa generasi muda membutuhkan dukungan agar suara mereka bukan hanya terdengar, tetapi juga bergemuruh dalam pentas demokrasi Indonesia.

Untuk memberikan pemahaman dan wawasan yang lebih mendalam, Tulodo Indonesia menyajikan laporan penuh dari hasil penelitian ini. Laporan ini diharapkan berguna untuk menyusun strategi guna memfasilitasi  kebutuhan dan i keinginan pemilih muda. Laporan dapat diakses melalui tautan berikut:

LINK

Exit mobile version