Ada Apa dengan Hari Pertama Sekolah?

Hari pertama masuk sekolah seringkali menjadi pengalaman yang mendebarkan. Entah itu perasaan takut karena akan bertemu dengan teman-teman baru, atau cemas karena memikirkan kegalakan guru yang mengajar. Ketika tiba tahun ajaran baru, pasti setiap orang akan mengalami hari pertamanya di sekolah, terlepas dari berapapun kelas mereka atau sepanjang apapun liburan yang mereka jalani sebelum masuk sekolah hari pertama. Akan tetapi, tahun 2016 menjadi tahun ajaran baru yang lebih istimewa daripada tahun-tahun sebelumnya di Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun ini memberikan perhatian khusus terhadap Hari Pertama Sekolah dengan melakukan kampanye #HariPertamaSekolah.

WhatsApp-Image-20160718

Pemerintah sungguh serius dalam mempersiapkan kampanye Hari Pertama Sekolah. Keseriusan tersebut tidak hanya ditunjukkan dari adanya pesan singkat yang masuk ke kotak pesan para pengguna layanan telepon selular tertentu, tetapi juga secara tertulis Kemendikbud menerbitkan  surat edaran resmi yang isinya berupa himbauan bagi gubernur, bupati dan/atau walikota untuk turut berpartisipasi menyukseskan kampanye tersebut. Berbagai media lainnya juga digunakan pemerintah untuk mendorong kesuksesan gerakan Hari Pertama Sekolah.

Video dari sini

Hari Pertama Sekolah menjadi bahasan hangat di dunia maya sejak tanggal 15 Juli (hari Jumat), tiga hari sebelum anak-anak masuk sekolah setelah libur lebaran. Selain mendorong para orangtua di Indonesia untuk lebih menunjukkan kasih sayang kepada anak dengan mengantar anak di hari pertama mereka sekolah, Kemendikbud juga menerbitkan berbagai infografis tentang kegiatan Hari Pertama Sekolah bagi orangtua, murid, dan guru, serta infografis yang berisi pesan agar para orangtua lebih berhati-hati ketika membuat posting di media sosial tentang kegiatan Hari Pertama Sekolah anaknya.

20150727101110-1-tips-haripertama-sekolah-dari-kemendikbud-ri-001-bramy-biantoro

FB_IMG_1437893084204

Gambar diambil dari sini. Infografis kegiatan Hari Pertama Sekolah lainnya dapat dilihat di sini.

IMG-20160717-WA0029

Infografis diambil dari sini.

Gerakan Hari Pertama Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah ini tidak berhenti pada sekedar anjuran saja melainkan ada pesan emosional yang turut disampaikan pada penerima pesan singkat (“menunjukkan kepedulian serta kasih sayang buah hati Anda”). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pun turut terlibat langsung dalam promosi gerakan tersebut pada saat Car Free Day tanggal 17 Juli kemarin, H-1 anak-anak masuk sekolah.

022323900_1468730421-20160717-Anies-Baswedan-kampanyekan-antar-anak-ke-sekolah-Gempur-2

Gambar diambil dari sini.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah sudah baik, meski demikian ada hal yang bisa dilakukan agar gerakan Hari Pertama Sekolah bisa membawa dampak lebih optimal di masyarakat. Misalnya pemerintah dapat menambahkan tautan/link yang berisi informasi-informasi tentang cara-cara orangtua terlibat dalam pendidikan anak sehari-hari atau bisa juga disajikan informasi tentang dampak dari keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak seperti ini. Dengan demikian, perilaku orangtua dalam memberikan perhatian terhadap pendidikan anak tidak berhenti sampai dengan kegiatan mengantar anak ke sekolah di hari pertama masuk, tetapi juga berlanjut sampai dengan interaksi keseharian anak-orangtua di rumah. Keberlanjutan dari suatu perubahan perilaku di masyarakat dapat diupayakan ketika masyarakat sudah memberi perhatian atas isu yang disasar dan mereka pun perlu dibekali dengan kapasitas untuk dapat melakukan pesan dari gerakan sosial yang disampaikan (peduli dengan pendidikan anak).

Fasting and its impact on Indonesian eating habits: myth and reality

Ramadhan is a time of year that often sees a rise in both consumption and food prices, as reported in The Conversation. Recent findings from YouGov show a significant increase in spending on food amongst Muslims in UAE, Saudi Arabia, and Egypt. These facts show how Ramadhan can change Muslims’ behaviors.

Ramadan-Consumer-Behaviour-2016

Infographic taken from here.

The change in behavior during Ramadhan not only affects the way people spend their money. In Indonesia, as the country with the largest number of Muslims, Ramadhan is the time for families, friends and relatives to gather to break the fast together (in Indonesian it is called ‘Buka Bersama’ or ’BukBer’). So, of course, Ramadhan also changes eating habits. Nielsen conducted research in Indonesia in 2011 and found that during Ramadhan, Indonesians behave the same way as people in UAE, Saudi Arabia, and Egypt. They spend more on food.

971694194t

Illustration about how breaking fast together becomes a trend during Ramadhan.  

The conversation about Indonesian eating habits during Ramadhan often includes some health myths related to fasting. Here are some of them.

  1. Physical exercises is not necessary during fasting because it only causes lethargy (found here).
  2. Fasting is good for weight loss and can cure various diseases (found here). 

The persistence of these myths is interesting, because there is information available on the Internet to debunk the myths. For example, National Geographic tells us that fasting is only an effective way to lose weight when healthy eating habits are maintained, such as reducing sugar and avoiding certain fats. In spite of this, many women in Indonesia still believe fasting alone is an effective way to lose weight.

And there are other factors at play. In order to find out more, the Tulodo team asked a random citizen near the Tulodo office in Jakarta about her motivations for fasting.

So, when promoting healthy lifestyles, let’s think more about why humans need to eat. First, of course, to provide energy to enable human functions, such as movement and thinking. Second, there are social reasons why humans need to eat. Understanding the intersection of these personal and social dynamics is crucial in developing programs and campaigns to address issues such as healthy lifestyles. Happy fasting!

How successful are anti-rape campaigns?

Once again, a rape case has become a trending topic. It is because of a provocative article posted by Buzzfeed News. This case involved Brock Turner, a Stanford University student, who sexually assaulted an unconscious woman behind a dumpster. The article was very influential among the netizens, as reviewed by Adweek. For every person who shared it, 12 more people saw it.

pasted image 0Illustration taken from here.

Not only in America, in Indonesia rape cases have also drawn public attention recently. The case of YY, a junior high school student who was raped and murdered by 14 men in Bengkulu, caused public outrage. Various online media movements sprung up as a result of the initiative of the community to show solidarity and their concern for the case (Petisi 1 di Change.org, Petisi 2 di Change.org, Petisi 3 di Change.org, Tagar #NyalaUntukYuyun di Twitter).

Although both American and Indonesian communities quickly responded to the news through online media, yet there is something interesting which shows a substantial difference between the enthusiasm of these groups.

The public has responded to the rape case committed by the Stanford student ever since the case first appeared in the media. The Stanford case continues to be in the spotlight even after the court announced the sentence for the perpetrator. Many days after the court decision, many online media still voice their anger over the perceived light punishment the judge imposed on the perpetrators of rape (CNN, People, Cosmopolitan, Vogue, US Magazine, Yahoo, Perez Hilton). US Vice President, Joe Biden, also expressed his opinion and issued a call for male students to participate in the prevention of sexual violence on campus.

Different social behaviors has been demonstrated by the people of Indonesia. There is an impression that Indonesians have only shown a fleeting response to the YY rape case. Of the petitions made with the intention to follow up the rape of the junior high school student, none of them met the quota for support.  The hashtag #NyalaUntukYuyun only lasted for 9 hours as a trending topic on Twitter, according to the BBC.

Change_org Yuyun1

Screenshot from here, taken on 10th June 2016.

Gambar Petisi change.org

Screenshot from here, taken on 10th June 2016.

Gambar Petisi change.org

Screenshot from here, taken on 10th June 2016.

This finding is interesting because of the differences in social behavior, even though both groups used online media as a means to establish a social movement. This phenomenon shows that we need a better strategy to communicate and raise support from the community so human tragedies can provide momentum to create massive social movements in order to decrease the number of sexual abuse cases affecting women.

Campaigns, especially petitions, need to be promoted using a variety of marketing techniques. This is important because there are many other social issues which compete for public attention. Social organizations often assume the issue they promote is important, so the public will read and re-share the campaign. Careful thought goes into every successful campaign in order to draw attention and attract people to participate in the cause. Kopernik’s campaign on the role of women in renewable energy #Indonesianwomen4energy, managed by Tulodo, is a useful example. Social organizations also need to collaborate, for example by focusing on one specific campaign or petition.

One other thing that should be a concern of social organizations in making a campaign is the action taken after the campaign to attract the participation of the community. It is common in a social campaign to stop at announcing an issue, without a clear future action plan. In other words, a good campaign is one that can continue to live in the community, not just as a fleeting moment of consciousness.

 

Sudah Berhasilkah Kampanye Pemerkosaan?

Isu pemerkosaan kembali menjadi sorotan publik dan kali ini disebabkan oleh sebuah artikel yang dipublikasi online oleh Buzzfeed News. Artikel tersebut mengulas tentang kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh Brock Turner, seorang mahasiswa Stanford University terhadap seorang perempuan asing di belakang tempat pembuangan sampah. Sebagaimana yang dituliskan dalam Adweek, pengaruh dari artikel tersebut sangatlah kuat di kalangan netizen. Dampak yang kuat ditunjukkan dengan bertambahnya 12 orang baru yang membuka artikel tersebut setiap ada 1 orang yang membagikan artikel ini

pasted image 0

Di Indonesia sendiri, kasus pemerkosaan juga tengah menjadi sorotan. Hal ini dipicu dari kasus pemerkosaan terbaru, kasus YY, seorang gadis SMP yang meninggal akibat mengalami perkosaan masal oleh 14 pria di Bengkulu. Berbagai gerakan di media online bermunculan sebagai hasil dari inisiatif masyarakat untuk menunjukkan solidaritas dan keprihatinan mereka terhadap kasus tersebut (Petisi 1 di Change.org, Petisi 2 di Change.org, Petisi 3 di Change.org, Tagar #NyalaUntukYuyun di Twitter).

Meskipun masyarakat Amerika dan Indonesia sama-sama merespon berita kasus pemerkosaan dengan cepat melalui media online, akan tetapi ada temuan menarik yang menunjukkan perbedaan mendasar dari antusiasme kedua kelompok masyarakat tersebut. Kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh mahasiswa Stanford mendapat respon dari masyarakat sejak awal kasus tersebut muncul di media. Kasus ini terus menjadi sorotan bahkan setelah pengadilan menjatuhkan hukuman. Paska penetapan hukuman pun masih banyak media yang menyuarakan kemarahan atas vonis yang dianggap ringan yang dijatuhkan hakim terhadap pelaku pemerkosaan (CNN, People, Cosmopolitan, Vogue, US Magazine, Yahoo, Perez Hilton). Wakil Presiden Amerika, Joe Biden, juga turut mengemukakan pendapatnya serta membuat ajakan bagi para mahasiswa laki-laki untuk berpartisipasi dalam pencegahan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Perilaku sosial yang berbeda ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia. Ada kesan bahwa masyarakat Indonesia hanya sesaat dalam menanggapi kasus pemerkosaan YY. Petisi yang dibuat dengan tujuan untuk menindaklanjuti kasus pemerkosaan siswi SMP tersebut, hingga 1 bulan setelah dipublikasikan petisi tersebut, tidak ada yang berhasil memenuhi kuota dukungan. Kata kunci #NyalaUntukYuyun sendiri hanya bertahan selama 9 jam di Twitter, menurut BBCChange_org Yuyun1

Screenshot pada tanggal 10 Juni 2016.

Gambar Petisi change.orgScreenshot pada tanggal 10 Juni 2016.

Gambar Petisi change.org

Screenshot pada tanggal 10 Juni 2016.

Temuan ini menjadi menarik karena ada perbedaan perilaku sosial yang ditunjukkan oleh masyarakat meskipun kedua kelompok masyarakat menggunakan media online sebagai sarana untuk membentuk gerakan bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa dibutuhkan upaya komunikasi yang lebih strategis agar tragedi kemanusiaan ini bisa menjadi momentum untuk menciptakan gerakan sosial yang masif di tengah masyarakat demi terwujudnya perubahan yaitu penurunan jumlah kasus pemerkosaan terhadap perempuan.

Kampanye, termasuk pengajuan petisi, perlu untuk dipromosikan dengan metode pemasaran yang beragam. Hal ini penting untuk dipertimbangkan karena ada banyak isu-isu lain yang menjadi saingan. Setiap organisasi sosial berasumsi bahwa kampanye yang mereka lakukan mengandung pesan penting sehingga akan menarik perhatian publik (dibaca atau dibagikan). Akan tetapi, ada strategi yang perlu dipikirkan di balik sebuah kampanye agar setiap kampanye dari setiap organisasi dapat dibedakan dan menarik partisipasi masyarakat. Kampanye Kopernik #Indonesianwomen4energy yang dikelola oleh Tulodo adalah salah satu contohnya. Organisasi sosial harus melakukan kolaborasi, misalnya dengan fokus pada satu kampanye atau satu petisi tertentu.

Satu hal lainnya yang harus menjadi perhatian dari organisasi sosial dalam membuat suatu kampanye adalah aksi yang dilakukan sesudah kampanye tersebut berhasil menarik partisipasi dari masyarakat. Tidak sedikit dari kampanye sosial yang berhenti hanya sampai tahap penyuaraan isu saja tetapi tidak jelas perencanaan untuk tindakan selanjutnya. Dengan demikian suatu kampanye yang baik adalah kampanye yang dapat terus hidup di masyarakat, tidak hanya sekedar momen kesadaran sesaat.

Australia to tax sugary drinks?

Sugary drinks Australia infographic

Startingly sweet data about sugar (source: rethinksugarydrink.org.au)

A new study by Deakin University’s Gary Sacks and colleagues has calculated the impact on Australia of a tax on sugary drinks, similar to the one that will come into effect in the U.K. in 2018. In their article in The Conversation, Sacks says 25 years after the introduction of the tax in Australia, there would be 4,400 fewer cases of heart disease and 1,100 fewer strokes. An estimated 1,600 people would be kept alive longer. The savings to the healthcare system would add up to A$609 million, with revenue collected above A$400m annually. This would provide the government with funds to subsidise healthy food for low income Australians, contribute to childhood obesity prevention programs and support the adoption of healthy eating habits. The cost of preventable disease is threatening to overwhelm the health system, therefore a tax on sugary drinks makes sense. However, the tax must be one element of a comprehensive approach to address poor diets and overweight and obesity, including understanding of the non-economic barriers and benefits to change.

Keuntungan mengubah perilaku penggunaan air dan listrik 

Ini contoh bagus keuntungan yang ditawarkan untuk mengubah perilaku pengunaan air dan listrik. Semoga anda nikmati juga.

Hello: Awkward friendship moments save lives on the road

A new campaign from the New Zealand Transport Agency focuses on driver distraction, a serious road safety issue all over the world. It is often the initial cause of a chain of events that results in serious injury and too often death. There are many potential causes of driver distraction: objects, events, or activities both inside and outside the vehicle. The campaign features passengers and drivers questioning the use of mobile phones when behind the wheel. The tagline is: “Put your passengers first. Drive Phone Free.” And in typical Kiwi style, it’s damn funny too.