MINGGU 2 – Survei Cepat tentang Perilaku, Dampak Sosial, dan Ekonomi COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia

FOR ENGLISH VERSION, PLEASE VISIT THIS LINK

Hasil Temuan Mingguan

Minggu 2, 27-30 April 2020

Temuan Penting

  • Kasus (per 30 April 2020): Di Bone, sebanyak 19.033 orang sudah dites, dan 9 pasien dalam perawatan (PDP), 297 di bawah pengawasan (ODP); dan 8.562 orang masuk kategori berisiko (ODR). Terdapat peningkatan jumlah kasus positif dari 0 menjadi 4 kasus pada minggu ini. Sumber: Gugus Tugas.
  • Total responden adalah sebanyak 122 orang, data dikumpulkan dari 27-30 April 2020.
  • Perilaku kesehatan. Telah terjadi peningkatan penggunaan masker wajah kain (non medis) dari 74,2% menjadi 90,2%. Sementara terdapat penurunan penggunaan masker medis dari 19,1% menjadi 9,8%. Untuk praktik mencuci tangan dengan sabun, terjadi peningkatan dari 85,4% menjadi 96,7%.
  • Pembatasan jarak. Terdapat peningkatan dari 97,7% menjadi 98,4% keluar rumah setidaknya 1-2 kali seminggu dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Minggu ini, 43,4% keluar rumah setidaknya 1-2 kali seminggu, 27,9% keluar setiap hari, 27% keluar 3-5 kali seminggu, dan 1,6% tidak keluar sama sekali. 62,3% menjaga jarak sejauh 1 meter dari orang lain, sementara 41% meminta orang lain untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter.
  • Dampak ekonomi. Terdapat peningkatan dari 44,9% menjadi 50,0% (n= 61) melaporkan pendapatannya menurun. Terdapat peningkatan dari mereka yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari (dari 42,7% menjadi 50,0%), dan peningkatan mereka yang kehilangan pekerjaan dari 7,9% menjadi 12,3%.
  • Bantuan sosial diterima. 68% tidak menerima bantuan, 18% menerima bantuan dari pemerintah; 18% dari organisasi masyarakat dan 2,5% dari LSM.
  • Kegiatan sosial yang dilakukan. 22,1% melakukan penggalangan dana; 25,4% mendistribusikan bantuan; 18,9% menyumbangkan ke organisasi masyarakat; dan 16,4% menjadi sukarelawan.
  • Dampak sosial dan pribadi: Terdapat peningkatan dari 62,9% menjadi 68,9% responden merasa takut terinfeksi oleh orang lain dibandingkan minggu lalu. Terdapat peningkatan dari mereka yang merasa stres atau marah sebanyak 4,5% dibandingkan minggu lalu (dari 27,0% menjadi 31,5%), dan 27% melaporkan takut isolasi (dalam perawatan), meningkat 12% dari minggu lalu.
  • Saluran komunikasi. Paparan informasi tentang COVID-19 dari televisi tinggi (88,5%) dan TV masih dianggap sebagai saluran yang paling dapat diandalkan (69,7%). Sumber informasi COVID-19 yang paling dapat diandalkan adalah berasal pemerintah pusat (68,9%).
  • Informasi masih diperlukan. 54,9% memerlukan pengecekan fakta atas berita hoaks yang beredar di masyarakat dan 53,3% memerlukan informasi seputar layanan kesehatan yang tersedia untuk menangani COVID-19.

1. Latar Belakang

COVID-19 adalah penyakit yang diakibatkan oleh virus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Cina dan dilaporkan ke WHO pada Desember 2019. Pada Januari 2020, WHO menyatakan  COVID-19 sebagai pandemik. Kebanyakan orang hanya mengalami gejala penyakit pernapasan ringan. Namun beberapa orang dapat mengalami gejala parah, termasuk pneumonia, yang mengakibatkan kerusakan paru-paru dan kematian. COVID-19 lebih berbahaya untuk mereka yang lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Kasus pertama dilaporkan di Indonesia pada 2 Maret 2020 dan pada 13 April 2020 pemerintah menyatakan sebagai bencana nasional. Pada 10 April, pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) dimulai di DKI Jakarta, dengan menutup sekolah, tempat kerja, membatasi pergerakan dan menutup tempat-tempat umum. COVID-19 berdampak pada kehidupan masyarakat dan keadaan ekonomi di Indonesia maupun di dunia.

Bone terdiri dari 27 kecamatan, 335 desa, dengan Watampone sebagai ibukotanya. Jumlah penduduk di Bone adalah 751.026 orang. Seperti juga banyak daerah di Indonesia, Kabupaten Bone juga telah terlibat secara aktif dalam usaha pencegahan COVID-19. Per tanggal 30 April 2020, sebanyak 19.033 orang telah dites, dan terdapat empat (4) kasus positif yang dikonfirmasi. Sebanyak 9 pasien dalam perawatan (Pasien Dalam Pengawasan/PDP); 8.562 di bawah pengawasan (Orang Dalam Pantauan/ODP); dan 297 orang berisiko (Orang Dalam Risiko/ODR). Upaya promosi kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah meliputi pembersihan dengan desinfektan, distribusi masker, dan pembersih tangan (hand sanitizer). Pada tahun 2019, sebagai bagian dari program BERANI, UNICEF menugaskan Tulodo untuk mengelola proyek pencegahan pernikahan anak dan kesehatan menstruasi di Kabupaten Bone. Untuk kegiatan penelitian ini kami juga berkoordinasi dengan jejaring Tulodo yang ada di Kabupaten Bone.

2. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan seputar: apa itu dampak dari COVID-19 di Indonesia dari waktu ke waktu? Penelitian ini menggali bagaimana masyarakat di Bone menanggapi situasi COVID-19, termasuk di dalamnya adalah perubahan perilaku kesehatan (contohnya pemakaian masker wajah, praktek mencuci tangan dengan sabun, dan perilaku menjaga jarak) dan bagaimana pandemi ini dapat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi mereka. Kami juga menggali lebih dalam tentang penggunaan saluran komunikasi serta informasi terkait COVID-19 oleh masyarakat. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi untuk mitra dan pemangku kepentingan lainnya.

3. Metodologi

Penelitian ini menggunakan metode potong lintang (cross-sectional) dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, yang dilakukan setiap minggu dari 23 April hingga 15 Mei 2020. Hal ini memungkinkan kami untuk menelusuri data dari minggu ke minggu selama masa penelitian. Survei kuantitatif dilakukan melalui telepon dan online. Kami menggunakan metode bola salju untuk merekrut peserta melalui telepon, sementara untuk daring kami mendistribusikannya melalui mitra kami. Target total sampel adalah sebanyak 450 responden Untuk studi kualitatif, kami akan melakukan sebanyak 15 wawancara melalui telepon.

4. Hasil

Berikut ini adalah hasil dari minggu kedua pengumpulan data (27-30 April 2020). Sebanyak 122 responden (45 responden melalui telepon dan 77 responden melalui online) ikut serta dalam penelitian ini. Hasil penelitian yang terdapat laporan ini bersifat sementara dan akan kami perbarui lagi di minggu berikutnya.

4.1 Karakteristik sampel
  • Lokasi. 17.2% (n=21) responden berasal dari Kecamatan Tanete Riattang Barat, 10.7% (n=13) masing-masing berasal dari kecamatan Tanete Riattang and Salomekko.
  • Jenis kelamin. 47.5% perempuan, 52.5% laki-laki.
  • Usia. 31.1% berusia 31-40 tahun; 23% berusia 21-30 tahun, 20.5% berusia 51-60 tahun, 17.2% berusia 41-50 tahun, 5.7% berusia 11-20 tahun, 1.6% berusia 70 tahun dan 0.8% berusia di atas 61-70 tahun.
  • Pencari nafkah utama. Bapak (68%), ibu (14.8%), laki-laki dewasa selain Bapak dan Ibu yang tinggal satu rumah (8.2%), dan perempuan dewasa selain Bapak dan Ibu yang tinggal satu rumah (2.5%).
  • Pendidikan. 7.4% (n=9) tamat Sekolah Dasar, 3.3% (n=4) Sekolah Menengah Pertama, 26.3% (n=32) Sekolah Menengah Atas, and 60.7% (n=74) Universitas, dan 0.8% (n=1) tidak bersekolah.
  • Penghasilan/Pendapatan. 36.1% (n=44) memiliki pekerjaan tetap, 20.5% (n=25) mengatakan mendapatkan keuntungan dari penjualan hasil panen. 69.7% (n=85) mendapatkan penghasilan di bawah upah minimum daerah (UMP). Upah Minimum Provinsi (UMP) di Sulawesi Selatan adalah IDR 2,860,382 (USD200) per month.
  • Bantuan pemerintah. 5.7% (n=7) mendapatkan bantuan barang dari instansi pemerintah, 2.5% (n=3) menerima bantuan uang, 6.6% (n=8) menerima bantuan jasa, dan 85.2% (n=104) tidak menerima bantuan sama sekali. Dari mereka yang menerima bantuan, 22.2% mendapatkan Beras Sejahtera (Rastra) atau tunjangan beras; 22.2% menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) berupa uang tunai; 5.6% menerima bantuan dari Asistensi Sosial Penduduk Usia Terlantar (ASLUT); 27.8% terdaftar dalam program Kartu Indonesia Sehat (KIS); and 27.8% terdaftar dalam program Kartu Indonesia Pintar (KIP) program.
  • Lansia. 32% mengatakan bahwa ada satu orang lansia tinggal bersama di dalam rumah tangganya; 14.8% mengatakan ada dua orang lansia, and 2.4% mengatakan bahwa ada tiga orang atau lebih lansia di dalam rumahnya.
4.2 Perilaku
  • Perilaku mencuci tangan. 88.5% (n=108) mencuci tangannya setelah melakukan aktivitas di luar rumah, 68.9% (n=84) mencuci tangan sebelum/sesudah makan dan minum, 59.8% (n=73) mencuci tangan setelah menyentuh/memegang barang di luar rumah, 29.5% (n=36) setelah bersih dan batuk, 32.8% (n=40) setelah berjabat tangan, 39.3% (n=48) setelah menggunakan toilet, 30.3% (n=37) sebelum/setelah memasak makanan.
  • Perilaku mencuci tangan. Untuk perilaku mencuci tangan menggunakan sabun dan air terdapat peningkatan dari 85.4% ke 96.7%. Untuk minggu ini 12.3% (n=15) menggunakan air mengalir, 41% (n=50) menggunakan hand sanitizer (terdapat peningkatan sebanyak 8.7% dibandingkan dengan minggu lalu) dan 16.4% (n=20) membersihkan tangan dengan mengusapkan tangan ke kain/tisyu.
  • Masker wajah. Terdapat peningkatan jumlah dalam perilaku menggunakan masker wajah (non-medis) dari 74.2% ke 90.2% (n=110) menggunakan masker wajah kain (non-medis), sementara terdapat penurunan dalam penggunaan masker medis, dari sebelumnya 19.1 ke 9.8% (n=12).
Grafik 1 bhs IndonesiaGambar 1.  Perilaku terkait jaga jarak/social distancing

 

  • Social distancing/jaga jarak. Terdapat peningkatan dalam social distancing/jaga jarak 1 meter dari orang lain dari 42.7% ke 62.3%. Selain itu, untuk minggu ini 41% (n=50) meminta orang lain untuk menjaga jarak minimal 1 meter pada saat bertemu; 17.2% (n=21) menyarankan orang untuk menggunakan masker, dan hanya 21.3% (n=26) yang memberikan orang lain masker. Selain itu, 21.3% (n=26) tidak melakukan perubahan yang berarti/biasa saja saat bertemu orang lain.
  • Kegiatan di luar rumah. Terdapat peningkatan untuk responden yang mengatakan pergi ke luar rumah 1-2 kali dalam seminggu dibandingkan dengan minggu 1, dari 97.7% ke 98.4%. Untuk minggu ini, 43.3% (n=53) responden mengatakan pergi ke luar rumah 1-2 kali dalam seminggu, 27.9% (n=34) pergi ke luar rumah setiap hari, 27% (n=33) pergi ke luar rumah dalam 3-5 kali dalam seminggu, and 1.6% (n=2) tidak pergi ke luar rumah sama sekali.
4.3 Dampak dari COVID-19
  • Pekerjaan. Terdapat peningkatan untuk responden yang bekerja dri rumah, dari 32.8% ke 33.6% (n=41). Untuk minggu ini 23.8% (n=29) mengatakan bekerja seperti biasanya, 22.1% (n=27) mengatakan tidak bekerja untuk sementara waktu, 20.5% (n=25) masih bekerja seperti biasanya walaupun terdapat pembatasan (contoh: waktu kerja yang dikurangi dan jadwal baru untuk alokasi kerja).
  • Pendapatan. Terdapat peningkatan dari 44.9% ke 50.0% (n=61) untuk responden pendapatannya berkurang. Untuk minggu ini, 20.5% (n=25) melaporkan tidak mendapatkan pendapatan (IDR 0), dan 29.5% (n=36) melaporkan bahwa pendapatan mereka masih sama seperti sebelumnya.
  • Merasa terisolasi. Terdapat penurunan terhadap responden yang tidak merasa terisolasi, dari 67.4% ke 63.9% (n=78) dibandingkan dengan minggu lalu. Untuk minggu ini, 22.1% (n=27) melaporkan bahwa terkadang mereka merasa terisolasi.
  • Dampak lainnya. Terdapat peningkatan kepada responden yang melaporkan sulit untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari (dari 42.7% ke 50.0%) dan terdapat kenaikan untuk responden yang melaporkan bahwa mereka kehilangan pekerjaan, dari 7.9% ke 12.3% (n=15). Untuk minggu ini 49.2% melaporkan bahwa pendapatan mereka mengalami penurunan, 12.3% (n=15) melaporkan mereka kehilangan pekerjaan, 28.7% (n=25%)  merasa stres dan marah, 68.9% (n=84) ketakutan terinfeksi virus corona dari orang lain; 27% (n=33) takut dijauhi dan terisolasi (karena terinfeksi), 29.5% (n=36) melaporkan bahwa mereka saat ini jarang bertemu dengan keluarga.

“Saya tinggal dengan Ibu saya yang berusia 60 tahun. Kita selalu menonton TV bersama untuk mengetahui situasi dan informasi dari COVID-19. Ibu saya tidak memiliki akses ke sosial media, jadi saya selalu memberitahu beliau berita atau informasi terbaru dari sosial media. Informasi utama Ibu untuk mengetahui informasi seputar COVID-19 biasanya hanya dari TV” Responden Perempuan, 32 tahun, Salomekko.

4.4 Komunikasi
  • Paparan informasi terkait COVID-19. Dibandingkan dengan minggu sebelumnya, terdapat kenaikan jumlah responden yang menerima informasi dari televisi dari sebelumnya 85.4% ke 88.5% (n=108). Dan paparan informasi dari sosial media juga mengalami kenaikan dari 73.0% ke 77.0% (n=94%). Untuk minggu ini, 54.9% (n=47) mendapatkan informasi dari artikel online,  32.8% (n=40) mendapatkan dari spanduk, 30.3% (n=37) mendapatkan dari masjid, 20.5% (n=25) mendapatkan informasi dari mobil keliling, 8.2% (n=10) mendapatkan dari radio, 13.9% (n=17) mendapatkan dari surat kabar koran, 20.5% (n=25) dari SMS, dan 17.2% dari pamflet. Mereka yang mengatakan mendapatkan informasi dari sosial media, 88.3% (n=83) melaporkan bahwa mereka mendapatkan informasi dari WhatsApp, 81.9% (n=77) dari Facebook, 29.8% (n=28) dari Instagram, 39.4% (n=37) dari YouTube, whilst 5.3% (n=5) dari TikTok.
  • Sumber Informasi. 85.2% (n=104) mengatakan bahwa informasi yang mereka dapat berasal dari pemerintah pusat/nasional, 73.8% (n=90) dari pemerintah daerah, 73.8% (n=69) dari pemerintah desa, 33.6% (n=41) dari pemimpin agama, 39.3% (n=48) dari keluarga, 41% (n=50) dari teman and 26.2% (n=32) dari tetangga.
  • Saluran dan sumber informasi terpercaya. 69.7% (n=85) mengatakan bahwa televisi merupakan informasi yang terpercaya, sementara 13.9% (n=17) mengatakan artikel online. Sumber informasi yang paling terpercaya berasal dari pemerintah pusat/nasional (68.9% n=84) dan pemerintah daerah (17.2%, n=21).
  • Informasi yang masih diperlukan. 25.4% (n=31) mengatakan mereka membutuhkan informasi tentang jenis masker muka yang seharusnya mereka pakai;  41% (n=50) mengatakan mereka membutuhkan informasi tentang bagaimana penyebaran virus dapat terjadi; 42.6% (n=52) mengatakan jumlah kasus yang sedang terjadi; 53.3% (n=65) menginginkan informasi seputar pelayanan kesehatan yang tersedia; 27.9% (n=34) mengatakan tentang praktek/cara mencuci tangan yang benar; 43.4% (n=53) ingin mengetahui tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB); 35.2% (n=43) informasi tentang daerah yang sudah di lockdown atau dikunci, 54.9% (n=67) memerlukan pengecekan fakta tentang informasi yang benar dan salah. Hanya 20.5% (n=25) yang memerlukan informasi tentang pembuatan masker wajah (kain), 25.4% (n=31) bagaimana cara membuat hand sanitizer; 23.8% (n=29)  tentang kesehatan mental dan 7.3% (n=9) tentang informasi yang jelas tentang kapan virus corana dapat selesai/hilang.
4.5 Dukungan sosial yang diterima dan diberikan
  • Bantuan sosial yang diterima. 68% (n=83) tidak pernah menerima bantuan, 18% (n=22) menerima bantuan pemerintah, 18% (n=22) menerima bantuan dari komunitas setempat (Contoh: RT, RW, PKK) dan 2.5% (n=3) menerima bantuan dari NGO. Dari masyarakat yang menerima bantuan sebanyak 75% (n=30) menerima masker wajah, 20% (n=8) menerima hand sanitizers, 32.5% (n=13) menerima bantuan sembako berupa makanan, dan 10% (n=4)  menerima bantuan lain (Internet, listrik, gas dan air gratis).
  • Dukungan sosial yang diberikan. 50% (n=61) tidak berkontribusi dalam memberikan bantuan, 22.1% (n=27) menggalang dana donasi/sumbangan; 25.4% (n=31) mendistribusikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan; dan 18.9% (n=23) berdonasi ke komunitas/organisasi; 16.4% (n=20)  menjadi relawan. Dari masyarakat yang memberikan bantuan, 49.3% (n=33) mendistribusikan masker wajah, 14.9% (n=10) mendistribusikan hand sanitizer, 9% (n=6) mendistribusikan vitamin and suplemen, 32.8% (n=22) mendistribusikan makanan, 25.4% (n=17) mendistribusikan uang, dan 4.5% (n=3) mendistribusikan bantuan lainnya (internet, listrik, gas atau air gratis).
Grafik 2 bhs IndonesiaGambar 2. Jenis bantuan sosial yang diterima

5. Rekomendasi

Minggu ini melihat kasus COVID-19 pertama yang terkonfirmasi di Bone, kemungkinan akan berdampak pada persepsi kerentanan dan ketakutan untuk masa depan. Untuk mencegah penyebaran virus, berikut beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan:

  • Menargetkan lanjut usia. Lebih dari 49,2% rumah tangga melaporkan bahwa ada satu atau lebih lansia berusia di atas 60 tahun yang tinggal bersama dengan mereka. Hal ini menjadi penting untuk mempertimbangkan saluran komunikasi yang tepat dan materi yang menargetkan orang lanjut usia karena mereka lebih rentan terhadap COVID-19.
  • Fokus pada praktik menjaga jarak (social distancing).Minggu ini lebih banyak orang yang keluar rumah, yaitu sebanyak 98% responden keluar rumah setidaknya sekali seminggu dengan sekitar 28% responden keluar setiap hari. Fokus sebaiknya tetap menganjurkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, termasuk pemberian insentif ekonomi, seperti subsidi uang tunai dan makanan maupun pengimplmentasian denda dan peringatan untuk mereka yang keluar rumah.
  • Penurunan pendapatan dan pekerja/karyawan membutuhkan respon intensif dari pemerintah. Sementara dukungan telah banyak diberikan, 68% masih belum menerima dalam bantuan apapun. Intensifikasi dari respon dapat diberikan melalui program yang sudah berjalan/berlangsung, seperti misalnya KUBE, PKH. Rastras, KIS dan lain sebagainya. Bantuan, termasuk di dalamnya proyek padat karya dan kredit mikro dapat diberikan melalui saluran lokal, seperti PKK, BKMT, kelompok petani dan nelayan.
  • Menangani berita hoaks. Lebih dari separuh responden (55%) membutuhkan informasi untuk pengecekan berita hoaks. Saluran informasi COVID-19 yang paling populer kedua adalah melalui media sosial (77%) dengan sekitar 88% mendapatkan informasi dari WhatsApp, sementara 81,9% dari Facebook. Hal ini berarti bahwa penting untuk menginformasikan kepada masyarakat untuk menyaring informasi yang diterima. Monitor melalui patroli di dunia maya mungkin perlu dilakukan oleh polisi dan Dinas Komunikasi dan Informatika di Bone. Pemerintah Bone juga telah menyediakan situs web untuk menyediakan informasi terkait COVID-19 termasuk untuk meng-counter hoaks (covid19.bone.go.id). Saluran ini dapat menjadi sumber informasi utama yang penting bagi masyarakat.

Dowload report: Hasil Temuan Awal Covid19-W2-4May2020

Pengumpulan data minggu ketiga akan dilakukan pada tanggal 4-8 Mei 2020. Kami akan memperbarui laporan setiap minggunya.


PUSTAKA

Gugus Tugas Penanganan Covid-19. (2020). Update data Penanganan COVID-19 Kabupaten Bone. dated 23 April 2020: https://bone.go.id/2020/04/23/update-data-penanganan-covid-19-kabupaten-bone-kamis-23-april-2020-pukul-20-25-wita/

Liu, K., Chen, Y., Lin, R., & Han, K. (2020). Clinical features of COVID-19 in elderly patients: A comparison with young and middle-aged patients. The Journal of infection, S0163-4453(20)30116-X. Advance online publication. https://doi.org/10.1016/j.jinf.2020.03.005

Sani, T.P., Mariska, S,., Prasetya, V.G.(2020), How vulnerable are the elderly to COVID-19? https://alzi.or.id/how-vulnerable-are-the-elderly-to-covid-19/

Published by

Heribertus Rinto Wibowo

A public health enthusiast, passionate about the science of health promotion, tobacco control and social determinants of health.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.