Menciptakan Program Sanitasi dan Kebersihan yang Berpusat pada Perilaku Masyarakat

Picture1

Gambar 1. Salah satu sesi presentasi dalam International SBCC Summit 2018, sebuah program sanitasi dan kebersihan di Kiribati, dengan menggunakan pendekatan edutainment, salah satunya dengan menggunakan lagu.

Salah satu tujuan yang terdapat pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), tujuan ke enam, adalah bahwa pada tahun 2030, akan tercapai akses yang universal dan adil terhadap air minum yang aman dan dapat terjangkau bagi semua. Selain itu, pada tahun 2030, tercapai akses yang memadai dan merata untuk semua terhadap sanitasi dan kebersihan dan tidak terdapat pagi praktik buang air besar sembarangan, dengan memberikan perhatian khusus terutama pada kebutuhan perempuan dan anak perempuan yang berada dalam situasi rentan.

Tema sanitasi dan kebersihan merupakan salah satu tema yang diangkat dalam International SBCC Summit 2018. Beberapa sesi terkait sanitasi dan kebersihan adalah Understanding WASH Behaviors and Practices dan WASH Models That Work yang membahas tentang bagaimana menerapkan ilmu perubahan perilaku dalam praktik nyata, bagaimana mendesain dan mengaplikasikan Behavior Centered Design untuk pembuatan penelitian pendahuluan, mendesain program dan evaluasi di beberapa negara di Afrika. Penggunaan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Community Led Total Sanitation/CLTS) dan Transformasi Partisipasi Masyarakat Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (Participatory Hygiene and Sanitation Transformation/PHAST) juga dibahas dalam sesi tersebut.

Salah satu tema presentasi yang menarik untuk saya adalah program sanitasi dan kebersihan di Vietnam yang menargetkan para pria, terutama suami ini, mengombinasikan pendekatan manfaat secara rasional dan emosional. Bilamana pendekatan rasional menekankan bahwa buang air besar dengan toilet yang belum improved itu tidak baik, terdapat pula pendekatan emosional dan norma sosial yang menekankan bahwa buang air besar di tempat terbuka itu tidak aman. Salah satu pesan kampanye adalah untuk suami agar mereka dapat membayangkan bagaimana jika istri mereka dapat dilihat oleh orang lain saat buang air besar. Apabila mereka ingin dikenal sebagai pria yang mampu memberikan keamanan dan harga diri untuk istri mereka, mereka diajak untuk berinvestasi pada toilet higienis/improved.

Picture2

Gambar 2. Sebuah program sanitasi dan kebersihan di Vietnam, bertujuan untuk mengurangi prevalensi rumah tangga yang buang air besar di toilet yang belum improved dengan menitikberatkan pada norma social dan emosional.

Tulodo saat ini juga sedang terlibat dalam program Moris Moos (Clean Life, Hidup Bersih), sebuah program pilot yang merupakan bagian dari Partnership for Human Development Hygienic Initiative Campaign. Program Moris Moos ini dilaksanakan di Atabae, sebuah distrik di Kabupaten Bobonaro, Timor-Leste. Moris Moos akan menekankan manfaat emosional dan rasional dari mengadopsi sanitasi yang lebih baik, peningkatan toilet, mencuci tangan dengan sabun, dan membuang kotoran anak dengan benar. Saat ini, program Moris Moos sudah mulai berjalan, dengan HealthNet sebagai organisasi pengimplementasi program, Tulodo sebagai organisasi yang mengembangkan konten dan material komunikasi terutama versi cetak, dan Pixelasia yang memproduksi video dan radio spots.


Tulisan ini ditulis oleh Heri sebagai hasil dari pengalamannya di Social and Behavior Change Communication Summit 2018 di Bali.

Published by

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s