Berbagi Ilmu dan Menginspirasi Kelompok UMKM di Pacitan

Sebagai bagian dari project KOMPAK Improving Market Linkages for Community-Based Micro and Small Enterprises, Tulodo melalui Hepi Inc mengadakan kegiatan pelatihan terkait penjualan dan promosi, pengelolaan acara (event management), dan pemasaran digital untuk kelompok UMKM dampingan KOMPAK di Pacitan: Kelompok Mocaf Bogati dan Sumber Waras. Pelatihan ini dilaksanakan dari tanggal 27 hingga 29 Maret 2018 dan diikuti oleh sebanyak 12 peserta yang merupakan perwakilan dari kedua kelompok.

20180327_090840

Pada hari pertama, peserta belajar tentang dasar-dasar penjualan dan pemasaran, serta tentang kegiatan promosi untuk memasarkan produknya di sesi yang pertama. Melalui case study pada sesi yang kedua, peserta diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi tentang produk usaha mereka masing-masing dan belajar untuk menyiapkan strategi penjualan dan promosi dalam kelompok. Mereka juga diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

20180327_144153

Pada hari yang kedua, peserta belajar lebih dalam tentang pengelolaan suatu acara atau kegiatan (event management). Pada sesi ini, mereka belajar tentang bagaimana memanfaatkan dan mendesain suatu acara untuk mendukung kegiatan penjualan dan promosi produk usaha mereka. Seperti hari pertama, mereka juga diminta untuk merancang suatu acara untuk memperkenalkan produk baru atau varian baru produk dalam kelompok.

20180328_143555

Tema hari ketiga adalah tentang pemasaran digital. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mengenali lebih dalam mekanisme dan sistem dari kegiatan penjualan dan pemasaran digital. Banyak contoh case study yang diberikan dalam materi ini termasuk bagaimana kisah sukses dan inspiratif beberapa pelaku usaha via digital, serta bagaimana mengevaluasi program promosi melalui jalur digital. Peserta juga belajar untuk merencanakan kegiatan pemasaran digital produk-produk usaha mereka.

20180329_091610

“Tiga hari ini sangat seru. Saya belajar banyak sekali. Selama ini saya tahunya cuman jualan aja. Tidak tahunya ada banyak cara biar produk kita dikenal banyak orang apalagi lewat yang online itu. Saya jadi tidak sabar untuk segera mempraktekkannya.” -Bu Tutik

20180329_154252 (1)

Sukses selalu Kelompok Mocaf Bogati dan Sumber Waras!

Apakah quote dapat mengubah hidupmu?

Perubahan perilaku sangat menantang namun kadang tidak sepenuhnya dipahami oleh mereka yang bergerak dalam bidang pemasaran komersial. Mengapa? Karena dalam dunia komersial, sebagian kampanye dimaksudkan untuk meningkatkan pemasaran sebuah produk. Baik itu produk minuman, sepatu ataupun mobil. Mereka mencoba untuk merubah preferensi seseorang terhadap sebuah merek, bukan bertujuan untuk merubah perilaku seseorang.

Sebaliknya, sebuah kampanye perubahan perilaku, sebut saja kampanye kesehatan kepada masyarakat, dimaksudkan agar seseorang melakukan atau menghindari sebuah perilaku kesehatan tertentu, seperti tidak merokok atau harus banyak minum air putih. Dan pembuatan pesan yang fokus pada perubahan perilaku di sini membutuhkan seperangkat alat dan keahlian yang sangat berbeda dalam menyampaikan pesannya. Apakah benar?

Lalu bagaimana dengan quotes? Apakah quotes adalah salah satu pesan yang dapat merubah seseorang dalam merubah perilakunya? Quotes sendiri seperti yang diketahui oleh banyak orang dapat ditemukan dengan mudah, baik di media sosial, buku maupun Google Image. Mudah di sebar, dapat ditemukan di mana saja dan hanya berisi satu atau dua kalimat yang sangat mudah untuk dibaca dan dimengerti semua orang.

Kembali lagi ke masalah perubahan, banyak orang yang menemukan bahwa perubahan itu sulit, berubah bukanlah sesuatu yang mudah. Kebanyakan orang tidak melakukan sebuah perubahan baik karena memang tidak memiliki pengalaman perubahan yang sukses atau juga terlalu seringnya orang-orang di sekeliling kita memicu perubahan dengan menarik alasan – berdasarkan laporan, rencana atau pernyataan dari sebuah visi dan misi, dibandingkan dengan pendekatan ke dalam “emosi” individu seseorang. Karena banyak kelompok atau organisasi yang lupa bahwa hanya perasaan/emosi yang mendalam yang dapat memotivasi seseorang untuk melakukan perubahan kepada perilakunya.

Disini sebuah quotes adalah salah satu bentuk pesan yang dapat menunjukkan kebenaran dan mempengaruhi perasaan/emosi seorang individu. Quotes dapat mengubah cara pandang seseorang dalam melihat dan mendengarkan dunia. Kenapa? Karena banyak dari para penulis quotes menggunakan bahasa yang digunakan untuk menghormati dan merayakan, dibandingkan dengan menyalahgunakan, melarang atau merendahkan.

Sekarang coba pikirkan, apa perbedaan antara membaca pesan peringatan yang biasanya kita dapatkan melalui KOMINFO seperti “Jangan berjualan serta membeli apapun di trotoar” dengan membaca pesan quotes yang berbunyi “Just because my path is different doesn’t mean I’m lost” atau “Jangan mudah tersinggung di bumi … bukan cuma kamu yang punya perasaan”. Kira-kira pesan yang mana yang dapat merubah perilaku kamu?

Beberapa quotes membuat kita berpikir tentang hubungan sehari-hari yang kita miliki dengan orang-orang yang ada dalam hidup kita; anak-anak, pasangan dan teman-teman. Ada juga quotes yang kita baca merefleksikan akan kebenaran hidup kita di masa lalu yang tidak bisa kita utarakan dengan kata-kata. Selain itu quotes secara tidak langsung mengandung 6 nilai dari 7C’s effective communication  Command Attention,  Clarifi the Message, Comunicate a Benefit, Consistency Counts, Create Trust, Cater to Heart and Head).

Namun sebarapun bagusnya sebuah quotes, tetap diperlukan sebuah strategi yang efektif dari pendekatan sebuah ilmu perubahan perilaku agar pesan yang dibaca oleh seseorang dapat benar-benar mengubah kehidupan seseorang. Diperlukan sebuah riset yang mendalam tentang pesan-pesan yang sesuai dengan keadaan, cara befikir, gaya hidup komunitas yang ingin kita ubah perilakunya. Selain itu, kita juga harus mendesain bagaimana cara penyampaian pesan itu sendiri harus direncanakan, dengan baik dan matang.

Mungkin quotes akan mengubah hidupmu. Quotes dapat memberikan sebuah ilusi untuk beberapa orang bahwa kita berubah atau kita sudah berubah atau bahkan kesadaran ingin mengubah kehidupan kita. Dan memang benar mungkin quotes dapat merubah hidup seseorang, namun perubahannya akan sangat, sangat kecil dan sementara. Namun, banyak orang lupa bahwa sebagian besar perubahan datang dari kelipatan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Co-designing micro-marketing service for businesses in Pacitan and North Lombok

Co-designing micro-marketing service for businesses in Pacitan and North Lombok

The impact of travel and tourism on the economic and social development of a country can be enormous. Travel and tourism can open up new businesses, trade and capital investment, create jobs and entrepreneurialism for the workforce and protect heritage and cultural values1.

The direct contribution of travel & tourism to Indonesia’s GDP in 2014 was over IDR 325 billion (3.2% of GDP). This almost doubled to 6% of GDP  (over IDR 345, billion) in 20152, economic activities were generated by industries such as hotels, travel agents, airlines and passenger transport services.

Aside from Tourism, small businesses are one of critical component of local economies. Small business account for over 99% of all firms in all economic sectors and employ over 95% of the population in Indonesia3. Small businesses have the ability to generate employment – which will reducing poverty.

Focusing on improving tourism and small businesses, branding and promotion,  KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan; KOMPAK is an Australia Indonesia Government partnership working to reduce poverty in Indonesia by supporting the Government of Indonesia (Gol) to improve basic services and economic opportunities for the poor and vulnerable) through Tulodo Indonesia develop a prototype that addresses community needs in the existing tourist village and small business, Tulodo conducted a series of focus group discussions with the main actors of the tourist village in Lombok and food product  in Pacitan.

Tulodo used the principles of human centered design, including from ideo.org.  The process starts with the people for whom the service is designed for and ends with new solutions that are tailor made to suit their needs. The followings are some lessons learnt from the Tulodo’s work:

  • Documentation

Documentation is an easy and important way to explore the situation and dynamics of the community, the tourist attractions, and how community contributes to the development of the  prototype. We document every activity in the tourist villages by taking notes and also taking photos.

  • Why

We asked a lot of ‘why’ questions to explore more information on the tourist village. “Why did you develop a tourist village?” “Is there an increase in the number of visitors in the tourist village?”. This method usually starts from a common question that is expected to more focus on to a sharp question. By repeatedly asking the questions “why”, we try to determine the root of the problem.

  • Personal Interviews

Human centered design is about approaching people that we are designing for. It is very important to hear their voices about the issues. When we interview someone in their workplace or local context, we learn their way of thinking, behaviour, and lifestyle.

  • Group Interviews

Even though group interviews do not have the depth of individual interviews, it can give us an interesting view of how people plan to operate. A good group interview is trying to hear everyone’s voices, as well as differences of opinions or views. The group interview is one method to understand what’s going on and what potential is in a community.

  • Asset Mapping

Asset mapping is one activity to learn more from people we are designing for. During our visit in the tourist village, we conducted mapping of the existing assets and supporting facilities in the tourist villages to explore the potential that the village has. Asset mapping can also help the people we are designing for to visualise a big picture of the issue and explore more ideas on how to solve the problems.

  • Local Guide

We always had a local guide who helped us during our visit in the four tourist villages. Having someone from the community in the tourist village we are designing for, the local guide will help us to explore more about the village’s routines and habits.

Using FGD as data collection method can explore more about people’s opinions and perceptions around issues and challenges. Its results can contribute to developing the marketing prototype that can be tailored in the local context and will be beneficial for people who live in the tourist village.

In the next article, we will discuss about the methods to develop and test the marketing service prototype.


1. World Travel and Tourism Council. (2015). Travel & Tourism: Economic Impact 2015 Indonesia. London: WTTC.
2. World Travel and Tourism Council. (2015). Travel & Tourism: Economic Impact 2015 Indonesia. London: WTTC.
3. USAID. (2012). A Snapshot of Indonesian Entrepreneurship and Micro, Small, and Medium Sized Enterprise Development. Jakarta: USAID.

 

 

The Clean Life for Timor-Leste

The issue of poo is never far from the minds of new parents – what mess was made and who bore the brunt. So it is with poo in the still-new nation of Timor-Leste. Around 15% of Timorese children aged under 5 years suffer from potentially deadly diarrheal disease, including from not washing their hands with soap and lack of access to improved sanitation. The government and donor parents of the nation are constantly worrying about their children’s poo, investing heavily in a hygienic future for Timor-Leste. It was in this context that Tulodo’s Nick Goodwin was in Timor Leste to help develop the new Australian DFAT-funded Partnership for Human Development (PHD) sanitation program.

Using a behaviour centred design (BCD) approach, the Moris Mos (Clean Life) brand was the result of a process consisting of three main elements – mixed method research, consultation with stakeholders and testing with priority communities. The mixed method research was conducted in mid-2017 by Tulodo’s Goodwin and Wibowo, focused on the district of Bobonaro in northwest Timor-Leste. The study used several frameworks of analysis for the data: behavioural determinants, value exchanges, segmentation and case studies. One key finding was that the benefits of sanitation most highly valued by the community were comfort and safety. Pride and dignity shone as major motivators for maintaining improved household toilets.

The study enabled the development of three segments to be targeted for the Moris Mos Hygienic Initiative: Champions, Aspirationals and Vulnerables. The WASH Champion is a leader and early adopter. They use an improved toilet and have a plan to improve their toilet, and they have specific place for handwashing. WASH Aspirationals are the early majority and have potential for change. They use an improved toilet and most have a plan to improve. However, there is no specific place for handwashing with soap. WASH Vulnerables are high risk and need intense support. They use an unimproved toilet and do not have a plan to upgrade in the next 12 months, with no specific place for handwashing at home.

Next was the development of the umbrella brand that could cover both improved toilets and handwashing with soap, as well as be flexible enough to add elements in future years, e.g. solid waste disposal.  In late 2017, PHD hosted a brand development workshop in Dili to review the research and decide on a way forward. The Moris Mos “Clean Life” was born. The brand statement: The Moris Mos (Clean Life) Hygienic Initiative helps ensure a better, cleaner life for the modern Timorese family using an improved toilet and a place to wash hands with soap to ensure a long life of dignity, comfort and safety.”

In keeping with BCD principles, Tulodo returned to the communities in Bobonaro to test and further develop the brand and its messages. We conducted several sessions with the local administrative post, ministry of health and other partners. We also conducted focus group discussions with members of the community, facilitated by the local partner NGO, HealthNet. Next steps include finalisation of the brand, rollout of the voucher program, development of the community mobilisation activities, training of suppliers and communications materials. Soon we hope the people of Timor-Leste will be enjoying the clean life.

 

Kekasih Juara, solusi untuk hidup bahagia?

Banyak orang yang tahu bagaimana caranya menemukan sekolah dengan kualitas yang bagus atau membeli pakaian dengan model terkini. Akan tetapi, ketika harus mencari tempat untuk mencurahkan masalah perasaan saat putus cinta, bertengkar dengan orang tua atau saat di-bully oleh teman. Masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya menemukan tempat untuk berbagi perasaannya.

Bila kita melihat lebih seksama, hidup di kota besar bukanlah hal yang mudah, menghadapi kemacetan jalanan saat berangkat dan pulang kerja, tingginya harga kebutuhan hidup sehari-hari, mendapatkan perilaku yang kurang ramah dari orang-orang di sekitar. Kriminalisasi dan kesenjangan sosial juga merupakan masalah untuk banyak orang yang hidup di kota besar.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil, mensiasati dengan membantu warga Bandung untuk tetap semangat menghadapi kehidupan. Pemimpin Kota Bandung yang terkenal dekat dengan warga melalui akun instragramnya ini kemudian mengoperasikantiga buah kendaraan t berwarna  merah muda menyala dilengkapi dengan gambar hati dan petugas kesehatan  bernama “Kekasih Juara” atau dikenal juga dengan kendaraan konseling silih asih yang diluncurkan pada hari Kamis (28/9/2017) pagi.

Truk Kekasih Juara akan dibawa berkeliling di taman-taman di Bandung (Taman Cikapayang dan Taman Sejarah); berhenti di lokasi yang telah ditentukan untuk satu hari penuh. Tim konseling yang terdiri dari psikolog dan psikiater turut ikut serta pergi bersama Kekasih Juara  membantu masyarakat untuk memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh warga.

Di Kekasih Juara, warga dapat membicarakan beragam jenis permasalahan, dimulai dari masalah percintaan, kekerasan dalam rumah tangga, stresmenghadapi tekanan pekerjaan di kantor, masalah kesehatan reproduksi atau bila ada dari warga yang ingin mengetahui bagaimana caranya berhenti merokok bahkan juga tersedia seorang ustad yang dapat membantu seorang warga yang sedang menghadapi masalah dan membutuhkan siraman rohani.

“Jadi jika Anda stres, putus cinta, ditikung teman, banyak utang, jarang dibelai, apa lagi suami jarang pulang, mantan ngajak balikan, apapun masalah duniawi yang sifatnya bisa dikonsultasikan, psikolog, psikiater, dan konselor akan hadir di mobil tersebut,” beber Kang Emil

Program ini dimulai semenjak terdapat laporan bunuh diri sejak awal 2017 yang terjadi di kotanya; Pemkot Bandung mencatat telah terjadi tiga insiden bunuh diri.

“Walaupun tingkat jumlah bunuh diri rendah, hanya tiga yang bunuh diri, kita harapkan tidak terjadi sama sekali” ungkap Ridwan Kamil

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Rita Verita menuturkan, kegiatan konseling hadir setiap hari Minggu pada pukul 07.00 sampai jam 10.00 WIB. Pada masa percobaan ini kendaraan konseling dilakukan pada dua Minggu sekali.

Master Class – The Implementation Science of Behavior Change

Behavior change is an exciting area of work, with the potential to improve lives, profits and impact. Yet many organizations struggle to execute it effectively. If you are interested in delivering successful behavior change approaches for your service, product, program or policy – this is the Master Class for you.
.
Experts from Tulodo and Universitas Gadjah Mada (UGM) will help you master the science of implementing behavior change programs, including the latest case studies, tools and resources from Indonesia and around the world. Below are the details.

Email invitation

Vaccine War in Indonesia

Vaksin

In August, Jokowi just announced the measles-rubella vaccination campaign. The aim of the campaign is to make Indonesia free from Measles and Rubella by 2020. This is a new movement from Jokowi’s government despite a lot of rumors about the use of vaccines are currently being questioned by many people.

People have been arguing about the pros and cons of the use of vaccines; that’s happen because some people believe that some vaccines contain pig gelatin substances. A lot of people (especially Muslim) hesitated for using the vaccine after hearing the rumor. Eight schools in Yogyakarta also refused to participate in immunization because of the fear of haram (violating their religious teachings). The situation is getting worse as there has been a rumor that MUI (Majelis Ulama Indonesia) againsts the use of vaccines.

However, Jokowi’s government fight back the rumors with their new program which focuses on controlling the spread of measles and rubella. The campaign itself is to remind parents to join this program, to ensure their participation

In this program and to encourage parents to trust the power of vaccines as the medicines that can protect their children’ health. Nila Moeloek (Minister of Health) has given a statement that the Measles-Rubella vaccines does not contain pork extract, so that parents do not have to worry about it.

The program will target children aged 9 months to 15 years to receive the Measles-Rubella vaccine injections in two phases. In the first phase, the immunization program will be delivered to children across Java between August and September, while those who live outside Java will be vaccinated in August-September 2018.

To make Indonesia free from measles and rubella by 2020 is never a simple task. True progress may not be achieved in one election cycle, one lifetime or even in one generation. But the most important thing is that Jokowi’s government start and continue work on it.

“It’s a task for parents and a task for the government. God gives us children to be loved, educated, protected and nurtured particularly be kept away from dangerous and deadly diseases,” Jokowi noted.

My fellow Indonesians, let us always be on the move to protect our health.


Photo: news.unair.ac.id

 

Intervensi untuk Program Anti-Rokok: Pentingnya Branding dan Segmentasi

Tulodo Indonesia (Dr Nicholas Goodwin dan Heribertus Rinto Wibowo) menjadi pembicara dalam salah satu sesi di Seminar Etika Pemasaran Rokok di Indonesia: Implikasi terhadap Kebijakan Pengendalian Tembakau pada tanggal 19 Juli 2017 di Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Edinburgh Napier University serta Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

 

Tema yang dibahas  oleh Tulodo Indonesia adalah studi kasus tentang program anti-rokok yang ditujukan kepada anak muda di Singapura, Thailand, Amerika Serikat dan Indonesia. Keefektifan dari program-program ini dianalisa, termasuk hambatan perubahan, keuntungan untuk masyarakat dan wawasan untuk mengembangkan program anti-rokok di Indonesia.

 

Dengan terus meningkatnya jumlah perokok di Indonesia terutama di kelompok pria, diperlukan suatu intervensi yang komprehensif dengan dukungan dari berbagai pihak. Sebagaimana suatu program tidak akan efektif menyasar semua target, diperlukan segmentasi terhadap target. Selain itu, penelitian terkait segmentasi juga perlu dilakukan agar dapat lebih memahami kebutuhan target dan intervensi dapat lebih tepat sasaran. Dalam mendesain sebuat intervensi, sebuah brand yang bermakna dan bernilai bagi target yang mampu meng-counter pemasaran industri rokok perlu dikembangkan. Pemahaman terhadap konsep pemasaran dan segmentasi sangat diperlukan oleh para praktisi kesehatan masyarakat untuk mendesain intervensi yang efektif dan tepat sasaran ini. Selain itu, perlu juga untuk mengubah perilaku melalui kebudayaan. Untuk mendukung itu semua, perlu dikembangkan juga kebijakan yang berbasis kesehatan masyarakat.

 

Beberapa topik lainnya yang dibahas dalam seminar ini adalah: “Pemasaran rokok di Indonesia” oleh Dr John Suprihanto (Universitas Gadjah Mada); “Persepsi publik terhadap etika pemasaran rokok” oleh Dr Nathalia C. Tjandra (Edinburgh Napier University); dan “Pemasaran rokok dan anak-anak” oleh Dr Yayi Suryo Prabandari (Universitas Gadjah Mada). Pada sesi terakhir, peserta dan pembicara berdikusi tentang kebijakan pengendalian tembakau yang telah diterapkan pemerintah lokal dan pusat, kekuatan dan kelemahan kebijakan tersebut dan proposisi untuk kebijakan yang akan datang. Peserta seminar terdiri dari berbagai perwakilan dari pemerintah lokal, dan beberapa lembaga swadaya masyarakat yang berbasis kesehatan, perwakilan dari universitas dan akademisi, serta mahasiswa.

Bagaimana cara menangani berita hoax?

Masih segar di dalam ingatan bagaimana kabar “orang gila merupakan penculik anak” tersebar di masyarakat. Banyak orang yang benar-benar mengalami gangguan mental menjadi korban main hakim sendiri dari masyarakat yang percaya kebenaran berita tersebut. Masalahnya beberapa dari mereka bahkan meninggal dunia akibat dipukuli dan ditendang oleh warga sekitar.

Kemudian, ada lagi berita yang memberikan tips untuk para pengguna produk IOS, bahwa produknya bisa melakukan charge lewat microwave apablila mengupdate sistem operasi ke IOS 8 (link). Berita ini menyebar dengan cepat di berbagai sosial media. Banyak sekali orang yang mencoba untuk melakukan tips ini walaupun belum tentu kebenarannya. Sayangnya tips tersebut hanya mengakibatkan handphone mereka rusak terbakar dan tidak bisa dipakai kembali.

Ada juga berita yang mengakibatkan perpecahan dua kelompok masyarakat. Apalagi bila bukan isu ojek online dan supir angkot yang kita ketahui bersama sedang saling bersaing di jalanan untuk mendapatkan penumpang. Ternyata, informasi-informasi yang menyebabkan terjadinya bentrokan yang diterima oleh kedua belah pihak hanyalah berita hoax semata (link). Siapa yang rugi disini? Tentu saja kedua belah pihak mengalami kerugian dari rusaknya motor dan angkot akibat kekerasan. Sedangkan, penyebar hoax hanya duduk di kursi rumah, mengetahui bentrokan yang terjadi dari berita yang disiarkan di layar kaca

Kita semua harusnya sadar, bahwa kita berada di dalam era di mana informasi bukan lagi kita yang mencari akan tetapi sang informasilah yang mendatangi kita. Beberapa orang kelebihan muatan dengan informasi; banyak yang tidak bisa melakukan penyaringan akan mana berita yang benar dan mana yang bukan. Di mana-mana, orang merindukan untuk mengekspresikan diri secara bebas dan berpartisipasi aktif dalam proses perubahan sosial, pemerintahan, pertukaran budaya dan lainnya. Secara universal, sebenarnya ada rasa haus yang dalam untuk memahami dunia yang kompleks di sekitar kita.

Akan tetapi rasa haus ini lebih bersifat emosional dibandingkan dengan rasional, melihat  banyaknya masyarakat yang masih percaya akan berita palsu/hoax yang tersebar di luar sana. Bila kita melihat dari sudut pandang psikologis wajar adanya bila masyarakat khawatir dengan berita “orang gila merupakan penculik anak” diatas. Banyaknya kejadian kekerasan diluar sana, menyebabkan orangtua atau kerabat terdekat lebih meningkatkan kewaspadaannya; lebih baik percaya dengan semua kabar/berita dibandingkan kecolongan kehilangan anak.

Terdapat juga kalangan yang tidak lagi percaya dengan media massa, terdapat beberapa orang memilih berita yang tersebar dari mulut ke mulut karena percaya bahwa beberapa dari media massa sudah tidak lagi menyebarkan berita yang benar. Mereka percaya bahwa berita di media massa selalu ditambahi oleh bumbu-bumbu michin agar orang tertarik untuk membaca atau menontonnya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya kita dapat memperbaiki ini semua? Karena banyak dari berita hoax yang tersebar di luar sana menyebabkan kerugian-kerugian, dan kerugian yang paling parah adalah hilangnya nyawa seseorang. Dari pihak pemerintah Indonesia sendiri sudah dilakukan beberapa upaya dalam menangani penyebaran berita hoax, salah satunya adalah revisi UU ITE yang berlaku saat ini tidak hanya menjerat pembuat berita hoax akan tetapi juga  “penyebar” berita hoax (link).

Apakah langkah yang dilakukan oleh pemerintah akan efektif? Mungkin hanya 30% kebijakan yang dilakukan pemerintah tersebut akan berjalan efektif. Karena, untuk mengurangi penyebaran berita hoax kita juga membutuhkan bantuan dari sektor swasta, seperti Google dan Facebook sebagai media atau tempat dari banyaknya konten-konten hoax ditemukan. Seperti kita ketahui, kedua platform tersebut merupakan platform yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Namun, belum ada langkah nyata yang serius untuk memerangi penyebaran berita hoax yang semakin merajalela ini dari kedua platform besar tersebut (link).

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara sendiri sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan Facebook wilayah Asia Pasifik. Beliau ingin adanya rencana nyata dari pihak Facebook dalam memerangi isu hoax (link). Ini mungkin salah satu akar dari penyelesaian masalah hoax yang sulit untuk diatasi saat ini. Diperlukan kerjasama dari banyak pihak untuk penyelesaian kasus ini, walaupun hilangnya berita hoax mungkin tidak akan pernah terjadi, tapi ada baiknya bila kita semua saling bekerja sama untuk menguranginya.

Untuk benar-benar mengurangi penyebaran berita hoax juga diperlukan seuatu pendekatan holistik dengan masyarakat. Harus ada sebuah pelatihan untuk masyarakat, dimana mereka dapat mempelajari bagaimana melihat berita palsu itu sendiri. Mungkin ada baiknya bila pemerintah mulai memasukkan pendidikan di bidang media dan literasi informasi ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah.

Banyak orang, khsusunya anak muda yang butuh dasar-dasar bagaimana cara untuk menggunakan akses terhadap informasi dan pengetahuan yang tidak terbatas, kebebasan berekspresi, kesetaraan gender, dan standar pendidikan yang tinggi dalam kerangka kerja yang sehat. Kita membutuhkan pendidikan yang dapat menggambarkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami fungsi media dan penyedia informasi lainnya di masyarakat di berbagai format media, khsususnya di dalam dunia maya.

Setiap negara di dunia, harus mulai mengambil langkah-langkah yang dapat membantu mengurangi penyebaran berita hoax ini. Dan pengambilan langkah ini harus dilakukan secara bersama, melibatkan semua pihak di dalam masyarakat. Karena kemajuan masyarakat di dalam bidang kesehatan, pendidikan dan lain-lain itu tergantung pada pengembangan ilmu yang berdasarkan fakta. Fakta itulah yang menjadi sumber harapan masa depan kita semua.

Indonesian Youth in the 21st Century Report

Tulodo’s Nick Goodwin and Irma Martam led the research for this report, ‘Indonesian Youth in the 21st Century’. The report was commissioned by UNFPA through the UN Inter-Agency Network on Youth Development (IANYD) and in collaboration with the Ministry of Youth and Sports. It covers a broad range of policies and issues that have become the main concerns of youth networks operating in Indonesia. The report highlights existing youth programs, partnerships and priorities in Indonesia, including the challenges faced and recommendations for future directions. It also provides suggestions for further interventions related to youth at the national level.
According to UNFPA, there are 65 million young people in Indonesia, and many still lack information about the decisions that affect their lives. Young people in Indonesia, particularly those living in poverty, are not given adequate opportunities to participate in the development of policies and programmes that affect them. The transition from childhood to the realm of adult responsibilities is a critical stage in life. Effective policies and programmes for adolescents and youth are key to Indonesia’s long-term development.

Link to the report

%d bloggers like this: